Sabtu, 07 Desember 2013

kasus bisnis yang tidak beretika 1

contoh kasus

Investigasi Reuters mengungkap skandal pajak Perusahaan kopi A di Inggris. Setahun lalu , keberadaan Perusahaan kopi A di Inggris mendapat sorotan tajam. Sejumlah kedai kopi milik perusahaan kopi multinasional asal Amerika Serikat itu didemo para aktivis. Sebab Perusahaan kopi A ketahuan tidak membayar pajak selama tiga tahun, meski terus mengeruk keuntungan.
Kasus yang membuat publik Inggris, termasuk para anggota parlemen, mencak-mencak itu bermula pada Oktober lalu. Ketika itu, kantor berita Reuters menurunkan laporan investigasi yang mengungkapkan, banyak kontradiksi antara laporan petinggi Perusahaan kopi A kepada otoritas pajak Inggris dan kepada investornya di Amerika Serikat. Perusahaan kopi A kebetulan terdaftar di Bursa Nasdaq.
Laporan kepada petugas pajak Inggris, Perusahaan kopi A mengklaim bisnis mereka di Inggris rugi gila-gilaan. Pada 2008, misalnya, mereka mengaku rugi sampai 26 juta poundsterling, lalu kembali rugi 52 juta poundsterling pada 2009, dan rugi lagi sampai 34 juta poundsterling pada 2010. Total selama tiga tahun itu, kerugian yang dilaporkan Perusahaan kopi A mencapai 112 juta poundsterling atau setara dengan Rp 1,7 trilyun.
Klaim merugi itu hanya akal-akalan Perusahaan kopi A. Reuters mewawancarai sampai 46 investor Perusahaan kopi A di Amerika Serikat serta para analis saham, dan mendapati bahwa bisnis Perusahaan kopi A di Inggris justru untung besar. Selama tiga tahun (2008-20100), Perusahaan kopi A ternyata melaporkan penjualan sampai Rp 1,2 milyar poundsterling kepada para investornya atau setara dengan Rp 18 trilyun.
Bahkan Chief Financial Officer (CFO) Perusahaan kopi A ketika itu, Peter Bocian, terungkap pernah menjelaskan bahwa keuntungan dari bisnis di Inggris begitu massif, sampai dananya dipakai untuk membiayai ekspansi Perusahaan kopi A di negara lain.
Bagaimana caranya hingga Perusahaan kopi A bisa memanipulasi data pajak segede itu? Modusnya memang tidak gampang. Menurut Reuters, untuk bisa terus mengaku rugi, Perusahaan kopi A harus bisa secara legal memindahkan keuntungan ke luar negeri. Caranya, antara lain, dengan offshore licensing. Ini taktik yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual.
Perusahaan kopi A Inggris, misalnya, ternyata tidak memiliki hak kekayaan intelektual atas desain, resep, atau logo Perusahaan kopi A. Hak kekayaan intelektual itu dipegang sebuah perusahaan asal Belanda bernama Stabucks Coffee EMEA BV.
Karena itu, tiap tahun Perusahaan kopi A Inggris mentransfer keuntungan ke Belanda atas nama "biaya lisensi". Oleh Perusahaan kopi A Coffee EMEA BV, pemasukan dari Inggris itu dikategorikan sebagai "royalti", yang dikenai pajak sangat kecil berdasarkan peraturan pajak Belanda. Lucunya, seperti diungkap Reuters, bos Perusahaan kopi A Coffee EMEA BV justru berkantor di Inggris.
Offshore licensing bukan satu-satunya taktik. Masih ada taktik lain yang digunakan Perusahaan kopi A Inggris untuk membuat mereka terlihat rugi. Taktik kedua ini berkaitan dengan pembelian biji kopi. Dari mana Perusahaan kopi A Inggris membeli biji kopi?
Menurut penjelasan mereka, Perusahaan kopi A Inggris membeli biji kopi dari sebuah unit Perusahaan kopi A lain yang berkantor di Swiss. Karena itu, tiap tahun mereka mentransfer banyak uang ke cabang Swiss untuk "biaya pembelian". Oleh unit Perusahaan kopi A Swiss, uang itu dikategorikan sebagai "penjualan komoditas", yang berdasarkan peraturan pajak Swiss hanya dikenai pajak 2%.
Namun dua taktik itu belum cukup. Taktik terakhir yang membuat Perusahaan kopi A Inggris benar-benar terlihat rugi (bahkan seperti hampir bangkrut) adalah utang antarcabang. Ini taktik yang secara hukum sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Tapi taktik ini efektif untuk membuat sebuah perusahaan terlihat hampir bangkrut.
Dalam kasus Perusahaan kopi A, ternyata Perusahaan kopi A Inggris dibiayai sepenuhnya dari utang cabang lain. Padahal, Perusahaan kopi A mengoperasikan hampir 800 gerai di seluruh Inggris. Selain itu, berbeda dari bisnis kebanyakan, Perusahaan kopi A tidak diwaralabakan.
Perusahaan kopi A Inggris berada dibawah kendali kantor regional Perusahaan kopi A di Belanda. Karena itu, utang Perusahaan kopi A Inggris pun jadi sangat massif. Belum lagi, menurut Reuters, bunga yang dibebankan untuk pembayaran cicilan utang itu relatif tinggi. Oleh sebab itu, akuntansi Perusahaan kopi A Inggris selalu rugi.
Memang banyak spekulasi bahwa utang itu hanya akal-akalan. Sebab utang antarcabang, membeli biji kopi dari Swiss, lalu membayar biaya lisensi ke Belanda bermuara ke satu hal: larinya uang hasil penjualan dari Inggris ke luar negeri.
***
Liputan Reuters tentang Perusahaan kopi A pun segera disambar parlemen Inggris. Apalagi, pada saat hampir bersamaan, dua perusahaan multinasional lain, yakni Google dan Amazon, terungkap melakukan praktek serupa. Kecurangan Google untuk menghindari pajak diungkap kantor berita Bloomberg, November lalu. Seperti Perusahaan kopi A, Google juga ketahuan melarikan uang dari keuntungan iklan mereka di Inggris (Google.co.uk).
Taktiknya pun lebih-kurang mirip. Google.co.uk ternyata anak perusahaan (subsidiary) yang menginduk ke cabang regional di Irlandia. Karena itu, keuntungan dari Google.co.uk ditransfer ke Irlandia. Tapi cabang Google di Irlandia ternyata berstatus anak perusahaan pula, yang kemudian mentransfer lagi keuntungan itu ke perusahaan lain di Belanda. Dari Belanda (yang juga berstatus anak perusahaan), uang itu ditransfer lagi ke sebuah perusahaan induk di kawasan Bermuda.
Di Bermuda --yang tidak memiliki peraturan pajak korporasi-- inilah uang keuntungan dari Google.co.uk terkumpul. Menurut penelusuran Bloomberg, dari Google.co.uk, uang hasil iklan di Inggris itu melewati setidaknya tiga rekening perusahaan anak (subsidiary) sebelum akhirnya sampai ke Bermuda.
Tidak mengherankan jika Google dikecam. Apalagi, perusahaan mesin pencari ini dengan percaya diri menjadikan tag "Don't be evil" (Jangan jahat) sebagai moto perusahaan. Sedangkan kasus pajak Amazon diungkap koran The Guardian, April lalu. Situs penjual buku online ini justru berbuat lebih jauh. Tidak lagi menggunakan taktik subsidiary, Amazon memindahkan kepemilikan saham Amazon.co.uk ke perusahaan induk bernama Amazon SARL, yang berlokasi di Luksemburg.
Status Amazon.co.uk jadinya hanya sebagai "divisi gudang", dengan kantor utama di Luksemburg. "Jadi, kalau Anda membeli buku dari Amazon.co.uk, berarti secara hukum Anda bertransaksi dengan sebuah perusahaan Luksemburg," kata Heather Self, pakar hukum pajak dari firma hukum Pinsent Masons, seperti dilansir BBC.
Padahal, buku-buku yang dibeli lewat Amazon.co.uk secara fisik berada di Inggris. Tapi, karena pengaturan itu, Amazon.co.uk hanya berstatus "lokasi gudang". Dengan taktik ini, Amazon bisa meraup keuntungan sampai 396 juta poundsterling (setara dengan Rp 6 trilyun), tapi membayar pajak di Inggris hanya 6 juta pound (setara dengan Rp 93 milyar), yang berarti hanya 1,5% dari keuntungan mereka.
***
Pertengahan November lalu, tiga petinggi perusahaan itu dipanggil ke parlemen Inggris untuk "diinterogasi". Dengar pendapat yang dipimpin Margaret Hodge, anggota parlemen yang mengetuai Komite Pelayanan Publik (PAC), itu mengungkap banyak hal lucu sekaligus ironi mengenai taktik penghindaran pajak korporat besar.
CFO Perusahaan kopi A sekarang, Troy Alstead, misalnya, mengaku bahwa biji kopi yang dibeli Perusahaan kopi A Inggris dari unit mereka di Swiss sebenarnya tidak pernah menyentuh tanah Swiss. Biji kopi itu dibeli dari berbagai negara, kemudian langsung diangkut ke Inggris. Cuma, pemilik biji kopi itu secara hukum merupakan perusahaan Swiss.
Sedangkan Andrew Cecil, Direktur Publik Amazon.co.uk, hanya bisa tergagap. Hodge --yang beberapa kali membeli buku di Amazon.co.uk-- bertanya, "Kapan buku yang saya beli pernah mampir ke Luksemburg?" Bahkan, dalam dengar pendapat yang disiarkan BBC itu, sejumlah anggota parlemen sempat marah ketika Cecil mengaku tidak tahu siapa yang memegang saham di Amazon SARL Luksemburg. Padahal, ke rekening perusahaan itulah duit para pembeli buku di Inggris mengalir.
Namun perlu ditegaskan, berbagai modus penghindaran pajak yang dilakukan tiga korporasi multinasional itu tidak berarti melanggar hukum. Sebab mereka hanya mengeksploitasi celah peraturan yang ada. Untuk membuktikan telah terjadi pelanggaran, dibutuhkan penyelidikan --sekaligus pembuktian-- yang lebih rumit.
Sayangnya, justru di situlah masalahnya. Menurut The Guardian, penghindaran pajak biasanya praktek yang dilakukan secara hati-hati dan dibuat agar tidak melanggar hukum positif yang berlaku. Prinsipnya adalah mengeksploitasi kelemahan sistem, bukan melanggar.
Hodge juga menyadari hal itu. Karena itu, dalam interogasinya terhadap tiga petinggi korporasi multinasional itu, sejak awal dia menegaskan, "Kami tidak menuduh Anda melanggar hukum. Tapi kami menuduh Anda telah berbuat amoral," katanya.
***
Seharusnya pajak sebuah perusahaan memang dikeluarkan di wilayah tempat terjadinya aktivitas ekonomi tersebut. Baik Perusahaan kopi A, Amazon.co.uk, maupun Google.co.uk sama-sama meraup banyak uang dari aktivitas ekonomi mereka di Inggris. Karena itu, pajak mereka pun harus dibayar di Inggris.
Tapi logika ini, sayangnya, seringkali tidak berlaku bagi korporasi multinasional yang beroperasi di banyak negara. Sumber daya yang dimiliki para korporat itu membuat mereka memindahkan uang antarnegara dengan mudah.
Setelah kasus ini merebak, Perusahaan kopi A yang gerainya beberapa kali didemo para aktivis akhirnya berjanji akan membayar pajak lebih besar. Apalagi, pengungkapan kasus ini membuat citra Strabucks Inggris jadi buruk dan mendorong dimulainya kampanye oleh para aktivis untuk tidak lagi minum kopi di gerai Perusahaan kopi A --dan beralih ke gerai kopi lokal.
Tekanan ini pula yang membuat Perusahaan kopi A Inggris, awal pekan lalu, akhirnya membuat pengumuman penting. Mereka berjanji membayar pajak 20 juta poundsterling atau setara dengan Rp 30 milyar dalam kurun waktu dua tahun. Jumlah yang menurut Financial Times lebih-kurang setara dengan pendapatan mereka di Inggris selama satu bulan.
Tapi kesediaan Perusahaan kopi A Inggris membayar pajak sampai 20 juta poundsterling itu justru dianggap sebagai penghinaan. Sebab besaran pajak seharusnya dihitung berdasarkan kewajiban dan peraturan yang pasti, bukan berdasarkan kesukarelaan si wajib pajak.
Berjanji membayar pajak sampai 20 juta poundsterling, Perusahaan kopi A sama saja menunjukkan betapa lemahnya aturan perpajakan Inggris hingga mereka sendiri yang harus menentukan berapa jumlah pajak yang ideal. "Pembayaran dan penetapan angka secara sukarela itu sama saja menghina sistem perpajakan Inggris," kata Conor Delaney, pakar hukum pajak dari firma Milestone International Tax Partners, seperti dilansir The Guardian.
Pihak yang paling terpukul, sekaligus paling banyak dikecam, dari praktek penghindaran pajak ini sebenarnya bukan tiga korporasi besar itu, melainkan Ditjen Pajak Inggris. Sebab merekalah yang bertanggung jawab memastikan eksploitasi semacam itu tidak terjadi. Sayangnya, kasus ini menunjukkan bahwa berhadapan dengan trik korporasi multinasional, negara seringkali kalah.(Basfin Siregar/dari berbagai sumber)


 (Basfin Siregar)
Laporan Utama Majalah GATRA edisi 19/06, terbit Kamis, 12 Desember 2012


analisis

Etika dalam berbisnis kerap kali diabaikan oleh suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang ingin memperbesar keuntungannya dengan cara yg salah, seperti memanipulasi laporan keuangan,sehingga jumlah pajak yg dbayar tidak sesuai peraturan pemerintah. Kasus pajak seperti ini banyak kita jumpai di dunia bisnis. Hal ini sangat merugikan negara,karena proses pembangunan dan segala kegiatan untuk mensejahterakan masyarakat luas akan terhambat atau tidak maksimal karna kurangnya pendapatan dari pajak.
Kasus pajak Perusahaan kopi terkemuka di dunia itu terjadi karena kurangnya pengawasan dari pihak pemerintah Inggris.  Kasus ini merupakan pelajaran bagi
Pemerintah Inggris dan pemerintah negara-negara lain untuk terus memperbaiki diri dalam sistem penarikan pajak dan pengawasan bagi perusahaan multinasional. 

Tidak ada komentar: